Senin, 16 Mei 2016

Puisi : Bunda

Unknown

Indahnya sang pelangi senja
Tak sindah senyumanmu
Tulus setia kasihku tak setulus cintamu

Hangatnya sang mentari pagi
Tak sehangat pelukanmu
Tak mungkin ku dapat kasih sayang
Setulus kasih mu

Sejuta kasih pun
Takkan pernah cukup bagimu
Mengganti kasih sayangmu bunda
Untuk aku yang lemah ini


Written by :


William Pratama
XI IPA 4 / 30

Tempat Wisata Terbaik di Indonesia dan Mancanegara (2)

Unknown
5. Puncak Jayawijaya



Puncak Jayawijaya atau yang biasa disebut dengan Puncak Carstensz adalah satu-satunya puncak gunung di Indonesia yang memiliki salju abadi. Puncak ini menjulang setinggi lebih dari 5.000 meter di atas permukaan laut. Yang lebih membanggakan lagi adalah Gunung Jayawijaya masuk ke dalam daftar Seven Summits atau tujuh gunung dengan puncak tertinggi di dunia.Puncak Jayawijaya ini pertama kali ditaklukan oleh seorang penjelajah asal Belanda bernama Hendrik Albert Lorentz pada tahun 1909. Lorentz berhasil mendaki puncak bersalju ini bersama enam orang suku Dayak Kenyah yang direkrutnya di Kalimantan. Setelah pendakian yang berhasil ini, mulai banyak pendaki yang mengikuti jejak Lorentz untuk menaklukan Puncak Jayawijaya. Hmm, apakah Anda pendaki selanjutnya yang berhasil menaklukan Puncak Carstensz?

6. Trio Gili



Trio Gili merupakan tiga pulau cantik yang ada di Lombok. Ketiga pulau tersebut antara lain Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Ketiganya tak hanya dikenal oleh wisatawan domestik, tapi juga telah berhasil mengundang banyak wisatawan mancanegara untuk datang.Dari ketiga pulau tersebut, bisa dibilang Gili Trawangan adalah yang paling populer. Selain karena ukurannya yang lebih luas dibanding kedua pulau lainnya, di sini juga telah berdiri banyak tempat hiburan seperti bar dan kafe. Ada banyak kegiatan yang bisa Anda lakukan di tempat wisata ini mulai dari berjemur, menyelam sampai snorkeling. Yang lebih asyik, Anda juga bisa menyewa sepeda atau naik cidomo, kereta kuda semacam delman, untuk berkeliling pulau.Meskipun Gili Trawangan lebih banyak dikunjungi, namun Gili Meno dan Gili Air tak kalah menarik. Kedua pulau ini juga memiliki keindahan pantai dan alam bawah laut yang menunggu untuk Anda jelajahi. Suasana keduanya relatif lebih sepi dan tenang sehingga cocok untuk Anda yang memang ingin lepas dari keramaian.

7. Pulau Komodo



Pulau Komodo masuk dalam kawasan Taman Nasional Komodo bersama pulau-pulau lain di sekitar Kepulauan Nusa Tenggara. Pada tahun 1986, UNESCO menetapkan tempat wisata di Indonesia ini sebagai salah satu situs warisan dunia. Pulau ini dianggap sebagai habitat binatang komodo yang wajib dilindungi. Salah satu penghargaan tertinggi yang berhasil diraih adalah berhasil masuk dalam jajaran tujuh kejaiban alam di dunia atau yang lebih dikenal dengan New Seven Wonders of Nature pada tahun 2011.Tempat wisata ini menawarkan keindahan daratan dan alam bawah laut yang luar biasa. Ada banyak hal yang bisa Anda lakukan di sini, mulai dari trekking, menyelam sampai snorkerling.Untuk trekking, Anda bisa menjelajah pulau bersama rombongan dan seorang ranger atau pemandu. Dalam perjalanan, Anda bisa menemukan komodo yang sedang berburu mangsa atau beristirahat. Ranger akan membekali Anda dengan sebuah tongkat yang ujungnya bercabang. Tongkat ini dipercaya dapat melemahkan komodo saat binatang ini mulai menyerang. Dengan menekan leher komodo menggunakan ujung tongkat yang bercabang, binatang ini seketika akan jinak. Penting bagi Anda untuk menjaga setiap gerakan saat berjalan karena binatang ini sangat peka terhadap gerakan yang tiba-tiba.Menyelam dan snorkeling di perairan Pulau Komodo tak kalah seru. Tempat wisata ini juga dikenal dengan keindahan alam bawah lautnya dan menjadi salah satu lokasi menyelam favorit. Yang menarik lagi adalah adanya Pink Beach atau Pantai Merah Muda. Pantai ini adalah salah satu dari tujuh pantai di dunia yang memiliki pasir berwarna kemerahan. Warna ini diduga berasal dari serpihan koral yang hancur dan bercampur bersama pasir pantai. Saat terkena ombak, warna merah semakin terlihat jelas karena basah.


Sumber :
http://www.goindonesia.com/id/pariwisata/10-tempat-wisata-terindah-di-indonesia-paling-terkenal


Adapted by :



Vimala Kamandjaja
( XI IPA-4 / 26 )





Puisi : Leo...

Unknown

Detik demi detik kupandangi dirimu,
Takku sangka semua berlalu
Tak lagi sama…
Tak lagi tersisa…
Semua lenyap setelah kutermenung

Tangisku tak lagi berderai
Surai lembut milikmu tak lagi terasa
Ketenangan dalam jiwaku t’lah sirna
Gelora bahagia tak lagi singgah

Kembali kau melirik pecahan dalam sukmaku
Tersungging tawa sinis menakutiku
Air mataku tak berderai lagi…

Aku takut…
Kutelah berkata akan menjagamu
Telah kulakukan segalanya
Bersih tiada ternoda
Kuyakin tiada persimpangan bagi kita,
Terjahit sudah semua
Jangan kau robek lagi…

Bisakah cinta ini membutakan dirimu,

 dan menghilangkan bara api dendammu?


Written by :



Vimala Kamandjaja
( XI IPA-4 / 26 )







Pesan dari Angin, Kabar dari Senja

Unknown


“Aku tidak apa-apa di sini Ibu, aku mempunyai banyak teman dan mainan. Aku sering berbincang dengan burung putih itu, bermain hewan panjang melata, dan menunggangi kuda terbang. Tapi kau harus tahu, di sini aku tak punya alas kaki.”

●●●

“Indahnya hari ini, bangun pagi, meskipun tidak bersamanya, aku masih bisa melihat cantiknya dia saat memasak.” Kata anak berkulit selembut salju itu dalam hati. Siapakah namanya? Oh, rupanya tak ada yang tahu.

“Hey! Ayo bangun! Jangan senyum – senyum sendiri! Paman bilang kita akan diajak main air ke air terjun sebelah! Naik kuda terbang lho!” Ujar temannya sambil mengguncang – guncangkan badannya.

“Duluan saja kak, aku masih ngantuk.”

“Paman dia tidak mau bangun!!” Teriaknya yang juga membangunkan yang lain.

“Bangunlah nak..” Paman gondrong itu membangunkannya sambil tersenyum.

“Tapi aku mau perginya sama ibu, Paman.”

“Bukan sekarang. Ayo cepat bangun, kita main. Ajak teman – temanmu yang lain ya.”

Anak berkulit lembut itu turun dari kuda terbangnya, kemudian duduk di sisi hilir sungai.

“Paman, apa itu ibu? Apa ibu minum dari air di sini? Air ini kan kotor, Paman, kakiku sudah masuk ke sungai ini.”

“Itu bukan ibumu, Nak. Jika itu ibumu pun sudah sepantasnya ibumu minum air dari celupan kakimu.”

“Mengapa begitu Paman? Kita semua di sini tidak pakai alas kaki bukan? Termasuk aku. Masa ibu minum air kotor, Paman?”

“Kamu belum bisa mengerti sekarang Nak, mainlah sudah bersama mereka, bersenang – senanglah, kelak kau akan mengerti.” Paman gondrong mengacak – acak rambutnya.

“Semua sudah Ku atur, Nak. Tersenyumlah, bebaskanlah dirimu.” Kata Paman gondrong dalam hatiNya.

Bermainlah anak tak bernama itu, hingga sampai ke hulu sungai, ia menemukan jalan berwarna – warni.

“Indahnya… Ayo kak kita main seluncuran! Aku warna merah ya! Kakak warna jingga, Tomi, kamu warna biru ya! 1..2..3..!!

“Aaaa..”

“Happp!!”

“Ah? Paman menangkap kami? Maafkan kami Paman, kami tidak minta izin main seluncuran itu.”

“Tidak apa, Nak. Itu namanya pelangi. Aku akan selalu menangkapmu, Aku tidak akan membiarkanmu jatuh bahkan sampai tergeletak. Mainlah lagi, nikmatilah semua kepunyaan-Ku.”

“Baiklah, Paman.” Mereka pergi, hanya anak berkulit lembut itu saja yang tetap berjalan bersama Paman gondrong.

“Paman, bolehkah aku bertanya sesuatu padaMu?” Katanya.

“Mengapa aku tidak bisa seperti mereka, Paman?”

“Mereka?”

“Ya, yang setiap pagi dipeluk ibunya saat akan bermain bersamaku. Tapi aku? Ah sudahlah.”

“Suatu hari kau akan menyadari dan mengertinya, Nak. Bahwa kau masih bisa bermain, tersenyum, dan berbagia bersamaKu. Dan kau pun akan seperti mereka suatu hari nanti. Tersenyumlah.” Paman gondrong menguatkannya.

“Baiklah, Paman. Terima kasih. Aku menyayangiMu. Tapi bolehkah lagi aku meminta sesuatu padaMu?”

“Mintalah padaKu, Nak, dan percayalah J”

“Bolehkah aku menulis surat pada ibu?”

“Baiklah, sekarang bersenang – senanglah dahulu.”

“Baik, Paman.”

Sesampainya mereka di rumahnya

“Paman, aku ingin menagih janjiMu, aku ingin menulis surat untuk ibu!!!” Katanya sambil jingkrak - jingkrak.

“Baiklah, Nak. Mari kita ke pantai seberang.”



“Ambillah ranting itu, Nak. Tulislah semua di atas pasir ini, biar angin yang menyampaikannya pada ibumu.”

“Baiklah, Paman.



Anak itu pun mulai menulis.

“Halo ibu...

Ini aku, masih ingatkah? Anakmu...

Aku diperbolehkan Paman gondrong itu untuk menulis surat ini padamu. Semoga rindu ini tersampaikan oleh angin dan senja yang datang.

Ibu.. Aku ingin bercerita.

Ibu harus tahu, aku di sini sangat bahagia, pagi yang indah selalu aku dapatkan. Meskipun aku tak bersamamu, aku masih sering melihat wajah rupawanmu saat kau memasak. Harusnya, aku bisa merasakan masakanmu, ah sayangnya tidak.

Oya, Bu. Sejak benda tajam itu menusuk bahuku saat aku berusia 4 bulan dalam perutmu, kau tahu? Aku kesakitan Ibu.. Kemudian tang itu merenggut telingaku, aku tak lagi dapat mendengar tangisanmu seperti malam – malam sebelumnya..

Kemudian tang itu menusuk mataku Ibu, aku ingin teriak kesakitan, namun aku tak bisa, daguku mulai dicapit olehnya. Tak tersadarkan olehku, aku langsung berada di tempat lain saat itu dan sudah tak terasa sakit lagi. Dan ketika aku melihat Ibu dari atas, Ibu pun teriak kesakitan, aku sekarang melihat kakiku sudah hilang, dan badanku tinggal potongan – potongan kecil yang siap keluar dari perutmu. Oh, maaf aku mengeluh padamu, Ibu.

Aku hanya ingin kau tahu bahwa di sini aku baik – baik saja, aku tidak apa – apa, aku mempunyai banyak teman dan mainan. Aku sering berbincang dengan burung putih itu, bermain hewan panjang melata, dan menunggangi kuda terbang. Tapi kau harus tahu, di sini aku tak punya alas kaki. Kau juga harus tahu banyak temanku di sini yang sama seperti aku, aku menyebutnya “kakak” , ia datang ke sini saat usia nya 5 bulan dan tidak bernama seperti aku. Kalau satu lagi namanya Tomi, ia seusiaku. Dan tadi baru saja kami bermain seluncuran yang berwarna – warni. Aku merah, kakak jingga, dan Tomi biru.

Aku senang di sini, Ibu. Ibu harus senang juga ya tanpa aku, karena aku akan sangat sedih jika Ibu bersedih, akulah yang menjaga nama baik Ibu dahulu, jadi aku tidak ingin Ibu malah bersedih sekarang. Titip salam untuk ayah ya, Bu. Paman gondrong juga titip salam untuk kalian, namanya Yesus, anak Abraham, anak Ishak, anak Yakub. Apakah Ibu mengenal mereka di sana?

Oh, ya. Sampai jumpa Ibu. Jaga kesehatan yaa, aku sayang padamu..”


“Sudah, Paman. Aku sudah lelah menulis.”


Penulis :


Brigita Sonia
( XI IPA-4 / 02 )

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism | Templatelib