“Aku tidak apa-apa di sini Ibu, aku mempunyai banyak teman dan mainan. Aku sering berbincang dengan burung putih itu, bermain hewan panjang melata, dan menunggangi kuda terbang. Tapi kau harus tahu, di sini aku tak punya alas kaki.”
●●●
“Indahnya hari ini, bangun pagi, meskipun tidak bersamanya, aku masih bisa melihat cantiknya dia saat memasak.” Kata anak berkulit selembut salju itu dalam hati. Siapakah namanya? Oh, rupanya tak ada yang tahu.
“Hey! Ayo bangun! Jangan senyum – senyum sendiri! Paman bilang kita akan diajak main air ke air terjun sebelah! Naik kuda terbang lho!” Ujar temannya sambil mengguncang – guncangkan badannya.
“Duluan saja kak, aku masih ngantuk.”
“Paman dia tidak mau bangun!!” Teriaknya yang juga membangunkan yang lain.
“Bangunlah nak..” Paman gondrong itu membangunkannya sambil tersenyum.
“Tapi aku mau perginya sama ibu, Paman.”
“Bukan sekarang. Ayo cepat bangun, kita main. Ajak teman – temanmu yang lain ya.”
Anak berkulit lembut itu turun dari kuda terbangnya, kemudian duduk di sisi hilir sungai.
“Paman, apa itu ibu? Apa ibu minum dari air di sini? Air ini kan kotor, Paman, kakiku sudah masuk ke sungai ini.”
“Itu bukan ibumu, Nak. Jika itu ibumu pun sudah sepantasnya ibumu minum air dari celupan kakimu.”
“Mengapa begitu Paman? Kita semua di sini tidak pakai alas kaki bukan? Termasuk aku. Masa ibu minum air kotor, Paman?”
“Kamu belum bisa mengerti sekarang Nak, mainlah sudah bersama mereka, bersenang – senanglah, kelak kau akan mengerti.” Paman gondrong mengacak – acak rambutnya.
“Semua sudah Ku atur, Nak. Tersenyumlah, bebaskanlah dirimu.” Kata Paman gondrong dalam hatiNya.
Bermainlah anak tak bernama itu, hingga sampai ke hulu sungai, ia menemukan jalan berwarna – warni.
“Indahnya… Ayo kak kita main seluncuran! Aku warna merah ya! Kakak warna jingga, Tomi, kamu warna biru ya! 1..2..3..!!
“Aaaa..”
“Happp!!”
“Ah? Paman menangkap kami? Maafkan kami Paman, kami tidak minta izin main seluncuran itu.”
“Tidak apa, Nak. Itu namanya pelangi. Aku akan selalu menangkapmu, Aku tidak akan membiarkanmu jatuh bahkan sampai tergeletak. Mainlah lagi, nikmatilah semua kepunyaan-Ku.”
“Baiklah, Paman.” Mereka pergi, hanya anak berkulit lembut itu saja yang tetap berjalan bersama Paman gondrong.
“Paman, bolehkah aku bertanya sesuatu padaMu?” Katanya.
“Mengapa aku tidak bisa seperti mereka, Paman?”
“Mereka?”
“Ya, yang setiap pagi dipeluk ibunya saat akan bermain bersamaku. Tapi aku? Ah sudahlah.”
“Suatu hari kau akan menyadari dan mengertinya, Nak. Bahwa kau masih bisa bermain, tersenyum, dan berbagia bersamaKu. Dan kau pun akan seperti mereka suatu hari nanti. Tersenyumlah.” Paman gondrong menguatkannya.
“Baiklah, Paman. Terima kasih. Aku menyayangiMu. Tapi bolehkah lagi aku meminta sesuatu padaMu?”
“Mintalah padaKu, Nak, dan percayalah J”
“Bolehkah aku menulis surat pada ibu?”
“Baiklah, sekarang bersenang – senanglah dahulu.”
“Baik, Paman.”
Sesampainya mereka di rumahnya
“Paman, aku ingin menagih janjiMu, aku ingin menulis surat untuk ibu!!!” Katanya sambil jingkrak - jingkrak.
“Baiklah, Nak. Mari kita ke pantai seberang.”
“Ambillah ranting itu, Nak. Tulislah semua di atas pasir ini, biar angin yang menyampaikannya pada ibumu.”
“Baiklah, Paman.
Anak itu pun mulai menulis.
“Halo ibu...
Ini aku, masih ingatkah? Anakmu...
Aku diperbolehkan Paman gondrong itu untuk menulis surat ini padamu. Semoga rindu ini tersampaikan oleh angin dan senja yang datang.
Ibu.. Aku ingin bercerita.
Ibu harus tahu, aku di sini sangat bahagia, pagi yang indah selalu aku dapatkan. Meskipun aku tak bersamamu, aku masih sering melihat wajah rupawanmu saat kau memasak. Harusnya, aku bisa merasakan masakanmu, ah sayangnya tidak.
Oya, Bu. Sejak benda tajam itu menusuk bahuku saat aku berusia 4 bulan dalam perutmu, kau tahu? Aku kesakitan Ibu.. Kemudian tang itu merenggut telingaku, aku tak lagi dapat mendengar tangisanmu seperti malam – malam sebelumnya..
Kemudian tang itu menusuk mataku Ibu, aku ingin teriak kesakitan, namun aku tak bisa, daguku mulai dicapit olehnya. Tak tersadarkan olehku, aku langsung berada di tempat lain saat itu dan sudah tak terasa sakit lagi. Dan ketika aku melihat Ibu dari atas, Ibu pun teriak kesakitan, aku sekarang melihat kakiku sudah hilang, dan badanku tinggal potongan – potongan kecil yang siap keluar dari perutmu. Oh, maaf aku mengeluh padamu, Ibu.
Aku hanya ingin kau tahu bahwa di sini aku baik – baik saja, aku tidak apa – apa, aku mempunyai banyak teman dan mainan. Aku sering berbincang dengan burung putih itu, bermain hewan panjang melata, dan menunggangi kuda terbang. Tapi kau harus tahu, di sini aku tak punya alas kaki. Kau juga harus tahu banyak temanku di sini yang sama seperti aku, aku menyebutnya “kakak” , ia datang ke sini saat usia nya 5 bulan dan tidak bernama seperti aku. Kalau satu lagi namanya Tomi, ia seusiaku. Dan tadi baru saja kami bermain seluncuran yang berwarna – warni. Aku merah, kakak jingga, dan Tomi biru.
Aku senang di sini, Ibu. Ibu harus senang juga ya tanpa aku, karena aku akan sangat sedih jika Ibu bersedih, akulah yang menjaga nama baik Ibu dahulu, jadi aku tidak ingin Ibu malah bersedih sekarang. Titip salam untuk ayah ya, Bu. Paman gondrong juga titip salam untuk kalian, namanya Yesus, anak Abraham, anak Ishak, anak Yakub. Apakah Ibu mengenal mereka di sana?
Oh, ya. Sampai jumpa Ibu. Jaga kesehatan yaa, aku sayang padamu..”
“Sudah, Paman. Aku sudah lelah menulis.”
Penulis :
Brigita Sonia
( XI IPA-4 / 02 )
( XI IPA-4 / 02 )